Pemkot Minim Perhatian terhadap Bangunan Tua

Jejak Kota Seribu Tahun
Pemkot Minim Perhatian terhadap Bangunan Tua

KEDIRI- Hari ini, Kota Kediri berusia 1131 tahun. Setidaknya, berdasarkan hasil penelitian tim bentukan pemkot yang kemudian ditentukan lewat voting di lembaga DPRD. Namun, perhatian terhadap bangunan-bangunan lama yang menjadi lanskap Kota Kediri tempo doeloe masih sangat minim.

Jangankan peninggalan zaman kerajaan, bangunan masa penjajahan yang hingga kini masih tegak berdiri pun banyak yang tak dihiraukan. Bahkan, rusak dan hancur diganti oleh bangunan baru.

Inilah yang mengusik keprihatinan Theo Khoe Ngo Su, 74, salah satu senior citizen kota ini. “Sebenarnya Kota Kediri masih kaya dengan bangunan peninggalan Belanda,” kata Theo, panggilan akrabnya, saat ditemui di rumahnya Kelurahan Pakelan, Kota Kediri, kemarin siang.

Theo memang mempunyai perhatian lebih terhadap lanskap Kota Kediri masa lalu. Setidaknya, itu tercermin dari koleksi foto-foto kota ini pada zaman penjajahan yang dimilikinya. Foto itu ‘warisan’ ayahnya, Khoe Goan Hok, mantan pengelola Hotel Wilis yang kini sisa bangunannya dijadikan kantor Bank Danamon di Jalan Brawijaya.

Theo mengatakan, banyak bangunan tua yang kini telah hilang. Di antaranya adalah Hotel Brantas yang kini menjadi kantor unit I PT Gudang Garam Tbk. Juga, gedung Societet, tempat para bangsawan Belanda berdansa, yang kini menjadi Gedung Nasional Indonesia (GNI).

societeit brantas Pemkot Minim Perhatian terhadap Bangunan Tua

Ada pula kawasan Nabatiyasa yang kini telah berubah menjadi showroom Auto 2000. Dulu, kawasan itu bernama Maxoli. Di dalamnya banyak rumah bangsawan Belanda yang beberapa tahun lalu masih terlihat sisanya. “Sekarang tinggal Hotel Merdeka, gedung BI (Bank Indonesia) lama, dan beberapa bangunan tua di sekitarnya,” katanya. Pada masa lalu, Hotel Merdeka dikenal dengan nama Rich Hotel.

Menurut Theo, jika bangunan-bangunan itu masih terpelihara semua, tentu sangat menarik. Makanya, dia berharap ada perhatian dari pemerintah. Sebab, bangunan itu merupakan aset sejarah yang tak ternilai.

Harapan serupa disampaikan Andrew Billy Rachmat alias Koh Liem, 62, senior citizen lain yang mempunyai perhatian besar kepada lanskap kota ini. Dia adalah putra Liem Gok Djie alias Thomas D. Rachmat, tokoh Persik pada awal berdiri. Hingga kini, dia masih banyak menyimpan foto-foto yang menggambarkan berbagai sudut kota ini pada masa lalu.

Di antaranya foto suasana Jl Basuki Rahmad, Jl Dhoho, Jl Stasiun, serta Perempatan Sumur Bor. Foto-foto itu hasil jepretan sang ayah. “Mestinya bisa seperti Surabaya. Sehingga, orang-orang tua yang datang ke kota ini masih bisa bernostalgia,” harapnya.

Sementara itu, Kabag Humas Pemkot Kediri Nur Muhyar mengatakan, sejauh ini telah ada pemikiran untuk melakukan renovasi terhadap bangunan-bangunan tua. Namun, pemkot belum menemukan pola yang tepat. “Apakah diserahkan ke satker (satuan kerja) atau siapa, kami belum tahu,” katanya saat dihubungi melalui ponselnya, tadi malam.

Selain itu, lanjut Muhyar, hingga saat ini pemkot masih belum memiliki anggaran khusus untuk perawatan. Sebab, untuk melakukan renovasi, tidak boleh melenceng dari bentuk aslinya.

Lalu, mengapa tidak diserahkan kepada dinas kebudayaan pariwisata pemuda dan olahraga (disbudparpora)? Menurut Muhyar, disbudparpora hanya melakukan perawatan terhadap bangunan yang telah menjadi cagar budaya. Maklum, tak semua bangunan tua merupakan aset milik pemkot. “Kalau bangunan milik perorangan, kami masih kesulitan untuk menjangkaunya,” katanya.

Alasan itu pula yang membuat pemkot tak bisa berbuat banyak ketika bangunan-bangunan tua tersebut dibongkar dan digantikan oleh bangunan baru. Apalagi, sejauh ini pemkot belum memiliki peraturan mengenai bangunan tua.

Muhyar menuturkan, salah satu peninggalan kota tua Kediri yang ditangani oleh pemkot adalah Jembatan Lama. Sebab, statusnya sudah jelas. Sehingga, pemkot berani untuk melakukan perawatan. “Jembatan lama sudah diserahkan ke pemkot,” tuturnya.

radar


Wednesday, July 28, 2010 by Coliq

Coliq

Web Designer/programmer/developer aseli Kediri. Suka utak-atik aplikasi/script open source, wordpress, joomla, dkk.. Founder dari wongkediri.com

Blog · FB · Twitter · Plurk


4 Comments for this post

zlendro says:
July 10, 2011 at 8:08

kalau ada acara kediri tempoe doeloe pasti rame.. mas ya?

julie says:
August 19, 2011 at 1:25

Oalah jgn kan bangunan ….. org jaman duu yg berjasa utk kediri ajaj tdk dihomati,contonya kakek saya yg rumahnya di perempatan sukorame,kami keturunan belanda yg di abaikan.

Coliq says:
August 19, 2011 at 4:54

@Julie:wedew.. itulah indonesa raya :(

nella yuwono says:
October 11, 2011 at 8:15

saya sebagai wrga kediri benar2 baru tau kalo ternyata kediri mempunyai bnyak bangunan yg bisa dijadikan cagar budaya, dan bisa menjadi warisan budaya..sayangnya pemerintah belum maksimal dlm perannya utk melestarikan bngunan bersejarah itu..ternyta bnyak bngunan yg sudah dibongkar dan berganti fungsi…sngat disayangkan sekali…

Leave a comment

Name (required)Comment
E-mail (required)
Website

pencarian dari search engine: kediri jaman dulu - bank indonesia kediri jaman dulu - universitas kahuripan pare kediri - simpang lima gumul - kantor kotamadya kediri jaman dulu - gambar biji dawet - nganjuk tempo doeloe - alun alun kediri - profil kabupaten kediri - gambar kota kediri - air terjun parijotho kediri - sejarah kerajaan kediri - club vespa kediri - piknik ke kampung pare vilaa kampung inggri - gule - hotel wisma poh sarang - trevel jurusan jakarta kediri pare - pondok pelem kediri - simpang lima kediri - daerah gumul kediri - tulungagung tempo dulu - pondok pesantren bahasa kediri - bec kediri - cara pembuatan kumbung jamur tiram - foto universitas yang ada di sekitar jawa -